REALITAS SOSIAL DI SEKITAR TWIN TOWERS UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
REALITAS SOSIAL DI SEKITAR TWIN TOWERS UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
Abstrak: Paradigma Twin Towers UIN Sunan Ampel Surabaya menekankan bahwa ilmu keislaman dan ilmu sains dan sosial humaniora saling melengkapi, bukan mengintervensi satu sama lain. Debat paradigmatik tentang penelitian hubungan internasional kontemporer membuka pintu bagi paradigma Twin Towers Terintegrasi untuk mengisi keterbatasan paradigmatik dalam studi hubungan internasional kontemporer, terutama dalam perspektif ilmu keislaman alternatif. Untuk menerjemahkan paradigma Twin Towers Integrated di tingkat prodi, Program Studi Hubungan Internasional UIN Sunan Ampel Surabaya menawarkan beberapa opsi. Pertama, menciptakan sejumlah mata kuliah yang menggunakan sumber dari studi ilmu keislaman. Kedua, merencanakan atau mengawasi riset yang dilakukan oleh siswa. Ketiga, menggabungkan program untuk meningkatkan kemampuan siswa dengan prinsip-prinsip Islam, seperti pembentukan karakter siswa.
Abstract: The Twin Towers paradigm at UIN Sunan Ampel Surabaya emphasizes that Islamic knowledge and science and social humanities complement each other, not intervene in each other. The paradigmatic debate about contemporary international relations research opens the door for the Integrated Twin Towers paradigm to fill the paradigmatic limitations in contemporary international relations studies, especially in the perspective of alternative Islamic science. To translate the Twin Towers Integrated paradigm at the study program level, the International Relations Study Program at UIN Sunan Ampel Surabaya offers several options. First, creating a number of courses that use sources from Islamic science studies. Second, planning or supervising research carried out by students. Third, combining programs to improve student abilities with Islamic principles, such as building student character.
Pendahuluan
Agama merupakan gambaran hubungan dari tuhan dengan manusia, pencipta dengan yang diciptakan, pemberi hukum dengan yang dikenai hukum. Dalam kajian teologis, Tuhan digambarkan sebagai sosok Yang Maha Sempurna sedangkan manusia di gambarkan sebagai pribadi yang membutuhkan pertolongan Tuhan agar mendapatkan keselamatan atas dirinya.
Dunia islam mengalami supremasi kemegahan dan kejayaan sekitar abad 6-12 m dalam hal ilmu pengetahuan dan filsafat, sehingga pada saat itu tidak heran agama islam menjadi mercusuar dunia baik di belahan timur maupun barat. pada masa kejayaan islam tersebut, banyak saintis dan filosof kaliber dunia telah dilahirkan dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan. contohnya, dalam bidang fikih telah ada imam hanafi, imam malik, imam syafi'i, dan imam hanbali. dalam bidang filsafat ada al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, dan Abu Yazid. sedangkan dalam bidang sains, terdapat Ibnu Jayyam, al-Khawarizmi, al-Razi, dan al-Mas'udi.
Dalam kajian sejarah, agama dan ilmu pengetahuan mengalami perjalanan panjang dengan persinggungan yang penuh perdebatan dan diskursif. Ada masa tertentu hubungan antara keduanya memiliki hubungan buruk, yang mana agama dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan. Pada masa ini, institusi agama dengan otoritas legal formalnya mendominasi hampir seluruh unsur kehidupan masyarakat, baik dalam aspek sosio-kultural (ontologi), aspek intelektual (epistimologi), aspek spiritual (aksiologi), maupun etika dan estetika (keindahan). Masa ini ditandai oleh kekuasaan teosentris dimana pusat ilmu berada dibawag kendali karisma.
Pada sekitar abad ke 18 M dan seterusnya (sampai sekarang), umat islam tampaknya mulai terbangun dari tidur ppanjangnya. jatuhnya mesir ke tangan barat mulai menyadarkan dan membuka umat islam bahwa di Barat telah muncul peradaban baru yang mana lebih tinggi dan menjadi sebuah ancaman besar bagi umat Islam. Mulai saat itulah muncul ide-ide dari kalangan intelektual islam untuk mempelajari ilmu pengetahuan barat yang sekularistik dan rasional-materialistik serta terpisah dari ruh dan moralitas islam.
Islamisasi ilmu pendidikan, menggerakkan intelektual muslim yaitu al-Faruqi dan al-Attas untuk mengintegrasikan keilmuan dan memecahkan dikotomi pendidikan islam. Meski demikian, intelektual muslim ada yang pro dan ada yang kontra dalam menanggapi proyek islamisasi ilmu pengetahuan tersebut, termasuk juga di Indonesia. Pada satu sisi ada yang menanggapi positif terhadap islamisasi ilmu pengetahuan tersebut dan di satu isi lain pula ada yang menanggapi negatif terhadap proyek islamisasi ilmu pengetahuan dengan berbagai argumen yang ada.
Paradigma menara kembar tersambung atau integrated twin towers menekankan pada pembangunan struktur keilmuan yang memungkinkan ilmu keagamaan dan ilmu sains serta humaniora sehingga satu sama lain tidak ada yang merasa superior ataupun inferior. Menara pertama menjadi simbol ilmu keislaman, sedangkan menara kedua merupakan representasi ilmu sains dan humaniora keduanya tersambung yang divisualisasikan dengan jembatan yang menghubungkan kedua gedung tersebut (interconnecting bridge).
Metodologi
Penelitian kualitatif deskriptif merupakan jenis dalam penelitian ini. Sehingga melalui penelitian kualitatif deskriptif dapat memberikan gambaran akan hasil penelitian dengan pendeskripsian data yang diperoleh di lapangan (Rini et al., 2022). Locus penelitian ini adalah Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Ampel Surabaya. Keterlibatan peneliti dalam penelitian ini adalah pengamat sebagai partisipan (observer as participant), yang berarti peran peneliti masuk ke dalam kelompok yang sedang diteliti, dan menyatakan diri secara terbuka sebagai pengamat (Hasanah, 2016).
Realitas Sosial di UIN Sunan Ampel Surabaya
Peralihan kampus Sunan Ampel dari institut ke universitas adalah satu bentuk langkah konsistensi mengusung semangat kemajuan dan pembaruan. Perubahan tersebut tidak terjadi dalam ruang kosong, melainkan melalui proses dan kajian yang panjang. Di satu sisi, pengembangan aspek keilmuan merupakan satu faktor paling krusial. Yakni, bagaimana caranya mengembangkan suatu kerangka dasar keilmuan universal, dapat menjalin keterpaduan dengan semangat masa kini, sehingga dapat dijadikan rujukan sekaligus jawaban sekian banyak persoalan sosial manusia. Pada sisi yang lain, dilihat dari perspektif perkembangan nasional dan global, konsep ―paradigma baru‖ bagi Perguruan Tinggi di Indonesia—termasuk bagi UIN Sunan Ampel—merupakan sebuah keharusan. Sebagaimana dikemukakan dalam World Declaration on Higher Education for the Twenty-First Century: Vision and Action.
Dalam proposal pengembangan IAIN menjadi UIN, juga disebutkan bahwa UIN Sunan Ampel Surabaya akan menempatkan penekanannya pada pengembangan paradigma Twin Towers yang terintegrasi. Ini akan dilakukan melalui penguatan tiga pilar program akademik. Ketiga pilar ini menunjukkan betapa pentingnya memperkuat keilmuan keislaman dan spiritualisasi keilmuan umum. Tiga pilar program akademik yang dimaksud adalah penguatan ilmu-ilmu keislaman murni tapi langka, integralisasi keilmuan keislaman pengembangan dengan keilmuan sosial humaniora, dan pembobotan keilmuan sains dan teknologi dengan keilmuan keislaman. Dalam kerangka akademik ini, model pengembangan keilmuan UIN Sunan Ampel Surabaya dikenal sebagai Twin Towers Integrated with three pillars.
Pada pilar pertama, yaitu penguatan ilmu-ilmu keislaman murni dimaksudkan meliputi kajian ilmu al-Qur’an, ilmu Hadits, Ilmu Fiqh, Ilmu Falak dan Ilmu Aqidah. Penguatan ini tidak hanya melalui penajaman dan pendalaman materi, akan tetapi juga melalui pengayaan melalui praktikum secara nyata di lapangan pendidikan Islam, baik di Indonesia maupun di luar negeri sesuai dengan keahlian akademik yang dikembangkan. Dengan penguatan seperti ini, ilmu-ilmu keislaman murni yang tergolong langka akan dimaksimalkan untuk kembali menjadi modal akademik yang sentral dalam kerangka penyelenggaraan pendidikan di lingkungan UIN Sunan Ampel Surabaya.
Pada pilar kedua, bentuk konkret integralisasi ini melalui perspektif sasaran kajian dan pendekatan. Melalui model integrasi seperti ini, yang satu dijadikan sebagai sasaran kajian dan lainnya sebagai pendekatan. Keilmuan keislaman menjadi sasaran kajian dan keilmuan sosial humaniora sebagai pendekatan. Bisa juga berlaku sebaliknya. Sebagai misal, pengembangan kajian tafsir al-Qur’an dengan menggunakan pendekatan hermeunetika dengan kerangka studi al- Qur’an moderen. Atau bisa juga kajian atas Ilmu Tarbiyah melalui perspektif kajian sosiologi (sosiologi pendidikan Islam), teknologi (teknologi pendidikan Islam), dan politik (politik pendidikan Islam).
Pilar ketiga, pembobotan keilmuan sains dan teknologi dengan keilmuan keislaman menekankan pada penguasaan akademik ilmu-ilmu keislaman. Lulusan dari studi keilmuan sains dan teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya didesain dan diproyeksikan memiliki pengetahuan, pemahaman dan sekaligus keterampilan praktis tambahan atas ilmu-ilmu keislaman. Inilah letak distingsi mahasiswa sains dan teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya dibanding lulusan studi keilmuan yang sama di lembaga pendidikan tinggi lainnya. Mahasiswa lulusan sains dan teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya mampu melakukan spiritualisasi keilmuan sains dan teknologi dengan mendekatkan keilmuan tersebut kepada semangat dasar ilmuilmu keislaman pada satu sisi, sekaligus juga mampu melakukan konkretisasi keilmuan keislaman melalui penciptaan instrumentasi nilai-nilai Islam lewat keilmuan sains dan teknologi.
Dalam proposal pengembangan IAIN menjadi UIN, juga disebutkan bahwa UIN Sunan Ampel Surabaya akan menempatkan penekanannya pada pengembangan paradigma Twin Towers yang terintegrasi. Ini akan dilakukan melalui penguatan tiga pilar program akademik. Ketiga pilar ini menunjukkan betapa pentingnya memperkuat keilmuan keislaman dan spiritualisasi keilmuan umum. Tiga pilar program akademik yang dimaksud adalah sebagai berikut: ilmu keislaman murni yang langka, penguatan ilmu keislaman pengembangan, integrasi ilmu keislaman pengembangan dengan ilmu sosial humaniora, dan pembobotan ilmu keislaman dengan ilmu sains dan teknologi. Dalam kerangka akademik ini, model pengembangan keilmuan UIN Sunan Ampel Surabaya dikenal sebagai Twin Towers Integrated with three pillars.Ditinjau dari perspektif filsafat ilmu, agama dan ilmu pengetahuan dapat dikatakan memiliki ruang berbeda. Perbedaan tersebut lahir sebagai konsekuensi logis atas konotasi agama yang lebih dekat dengan bahasa mistis. Sebaliknya, ilmu pengetahuan identik dengan bahasa angka.8 Tersistem dan terstruktur dengan ciri khasnya yang empiris dan verifikatif. Dengan demikian, percampuran antara agama dan sains adalah sebuah kebodohan besar. Keduanya harus dibedakan.9
Sebagai salah satu perguruan tinggi yang berkiblat pada pada acuan dan sistem pendidikan nasional, tidak mungkin bagi UIN Sunan Ampel mengasingkan dirinya dari perkembangan realitas sosial kultural kekinian. Artinya, dalam rangka menjaga eksistensi diri, maka UIN Sunan Ampel dituntut aktif melakukan kajian dari waktu ke waktu. Aktif mengamati keberadaan perguruan tinggi secara menyeluruh, dan kemudian mengikutinya dengan memunculkan gagasan-gagasan brilian yang berorientasikan pada pengembangan dan kamajuan kampus, baik secara institusi ataupun yang paling dasar, yakni keilmuan. Kajian-kajian demikian merupakan sebuah keniscayaan, sebagaimana yang tertuang dalam kerangka yang diajukan oleh D.A. Tisna Amijaya(D.A. Tisna Amijaya, Kerangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Panjang (Jakarta: Dirjen Dikti, 1976), 135. ) Kajian atas bangunan paradigma tersebut memiliki fungsi fundamental dalam upaya perwujudan sistem pendidikan dan keilmuan yang komprehensif, kolektif, dan progresif, mengandung kesesuaian dengan semangat perubahan zaman tanpa harus mereduksi jati diri basis keislaman. (teosofi)
Dilihat dari perspektif filsafat ilmu, sisi kontras antara agama dan sains dapat dilihat dari aspek bagaimana keduanya membangun konsep kebenaran, baik itu mencakup metode ataupun rumusannya. Konsep kebenaran dalam wilayah agama diproduksi melalui intuisi, sedangkan ilmu pengetahuan mengandaikan pada kegiatan rasionalisasi.35 Sains memiliki objek empiris, sedangkan agama mistis. Sains menggunakan pendekatan metode ilmiah, sedangkan agama lebih kepada pendekatan metode latihan ilmiah. Sains lebih kepada rasional, sedangkan agama cukup pada dasar keimanan.36 Sains bersumber dari pengatahuan yang sifatnya aposteriori, yang hanya dapat diakui kapasitas kebenarannya manakala diikuti oleh aktivitas penyeledikan, metodolgis dan verifikatif. Adapun agama memiliki sifat apriori, segala bentuk pengertian dan tingkat kebenarannya dapat diterima, sekalipun tidak diverifkasi atau dibuktikan lebih lanjut. (Suyanto, Metode Penelitian, 3. )Dalam batasan-batasan tertentu, perbedaan-perbedaan ini membuat ilmu pengetahuan bersikap eksklusif terhadap segala realitas sosial yang dianggab turunan agama, berbau mistik, transinden dan ghaib.
Kesimpulan
Peralihan kampus Sunan Ampel dari institut ke universitas adalah satu bentuk langkah konsistensi mengusung semangat kemajuan dan pembaruan. Yakni, bagaimana caranya mengembangkan suatu kerangka dasar keilmuan universal, dapat menjalin keterpaduan dengan semangat masa kini, sehingga dapat dijadikan rujukan sekaligus jawaban sekian banyak persoalan sosial manusia. UIN Sunan Ampel Surabaya akan menempatkan penekanannya pada pengembangan paradigma Twin Towers yang terintegrasi. Ini akan dilakukan melalui penguatan tiga pilar program akademik. Ketiga pilar ini menunjukkan betapa pentingnya memperkuat keilmuan keislaman dan spiritualisasi keilmuan umum. Tiga pilar program akademik yang dimaksud adalah penguatan ilmu-ilmu keislaman murni tapi langka, integralisasi keilmuan keislaman pengembangan dengan keilmuan sosial humaniora, dan pembobotan keilmuan sains dan teknologi dengan keilmuan keislaman
Gara gara ada twin towers yang menggambarkan 2 ilmu, maleh isine nde konomi gak agama tok masio uin
DAFTAR PUSTAKA
Al-Faruqi, Ismail Raji. “Science and Traditional Values in Islamic Society”, dalam Zygon, Journal of Religion and Science, Vol. 2 No. 3, 1997. h. 23
Al-Faruqi, Ismail Raji. Islamisasi Ilmu Pengetahuan, terj. A. Mahyudin (Bandung: Pustaka, 1984).
Haught, John F. Perjumpaan Sains dan Agama: Dari Konfik Ke Dialog, terj. Fransiskus Borgias (Bandung: Mizan, 2004).
Huda, M. Syamsul. “Integrasi Agama dan Sains Melalui Pemaknaan Filosofis Integrated Twin Towers UIN Sunan Ampel Surabaya”Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, Vol. 7, No. 2, (Desember 2017).
Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975).
Syaifuddin, H. “Integrated Twin Towers dan Islamisasi Ilmu”, dalam Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol 1 No. 1, (Mei 2013).
Hasanah, H. (2016). Teknik-teknik Observasi (Sebuah Alternatif Metode Pengumpulan Data Kualitatif Ilmu-ilmu Sosial. Jurnal Al-Taqaddum, 8(1).
#FDK #FakultasDakwahdanKomunikasi #KomunikasiPenyiaranIslam #AbuAmar
Comments
Post a Comment